splash
Ardiansyah
A Father of three children, and wants to lead all of the family to reach the highest location in Jannah
Dari Ibnu Abbas ia berkata, "Dahulu aku pernah berada di belakang Rasulullah, lalu beliau bersabda: "Wahai anak kecil sesungguhnya aku ingin mengajarimu beberapa kata, jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu, jagalah Allah pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkanmu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah diangkat pena dan telah kering tinta" (HR. Tirmidzi, hasan shohih)
 

You Are Viewing Renungan

Kehidupan setelah Kematian

Posted By ariandita on November 6th, 2012

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Hari ini aku sempat berdiskusi dengan istriku tentang kehidupan di alam kubur, kehidupan yang jauh lebih panjang dibandingkan kehidupan kita di dunia ini, yang kita dedikasikan hidup kita sekarang ini agar terhindar dari azab kubur. Kehidupan setelah kematian itu pasti ada, Allah, Sang Khaliq, adalah Dzat yang Maha Adil, seperti yang kita saksikan bersama saat ini dan saat – saat yang lalu, betapa banyak ketidakadilan di sekitar kita, jikalah memang kehidupan kita ini berakhir ketika kita makamkan di Tempat Pemakaman Umum, maka banyak masalah pertikaian yang tidak selesai. Sungguh sebenarnyalah di hari kiamat kelak seekor kambing yang patah tanduknya akan mengajukan tuntutan kepada kambing lain yang mematahkannya.

Setiap yang kita lakukan di dunia ini ada diperlihatkan kepada kita, sampai tindakan kita yang sekecil-kecilnya, yang berusaha kita tutupi dari seluruh makhluk. Kesadaran akan adanya kehidupan setelah kematian inilah yang seakan-akan hilang dari mayoritas manusia di dunia ini, bahkan dari mayoritas umat yang berkeyakinan adalah kehidupan setelah kematian, padahal dengan mengingat akan adanya kehidupan setelah kematian menjadikan seluruh perilaku kita terjaga. Kita semua akan menjaga agar tidak terperosok kepada hal-hal yang akan memperberat timbangan keburukan kita. Kita semua akan merasa bahwa WASKAT ( Pengawasan Malaikat ) itu adalah sesuatu yang nyata, karena catatan amalan kita yang dibuat oleh Malaikat Pencatat amallah yang akan dijadikan rujukan penghitungan amal kita kelak di hari kiamat.

Keyakinan tentang adanya kehidupan setelah kematian ini akan membawa perubahan besar dalam diri kita, karena dengan keyakinan tersebut kita akan mengesampingkan tujuan – tujuan rendah dari kehidupan dunia ini bila harus mengorbankan kehidupan kita kelak. Seorang wanita akan menampik tawaran kerja dari manapun yang mempersyaratkan dirinya harus melepas hijab / jilbab yang dikenakannya selama ini, berapapun tawaran gaji yang bakal diterima, karena kehidupan kita di akhirat nanti jauh lebih lama dibandingkan kehidupan kita sekarang. Apalah artinya kehidupan, yang mungkin paling lama untuk umat – umat sekarang ini 120 tahun, bahkan sangat jarang manusia yang dapat mencapai umur 120 pada saat ini, bila dibandingkan kehidupan akhirat nanti yang tiada berbatas.

Ad Dunya darul amal wa akhirat darul jaza’,

Dunia ini adalah Negeri Amalan, dan akhirat adalah Negeri Pembalasan, jangan ditanyakan apakah di Surga nanti kita masih wajib sholat, karena Negeri Akhirat adalah Negeri Pembalasan, di dunia ini kita mengalami susah dan senang secara bergantian, dan memang itulah sifat dari kehidupan dunia, jika mau senang terus maka berjuanglah untuk bisa hidup di Surga, dan Neraka adalah Negeri dimana kesusahan berlangsung terus – menerus, a’udzu billahi minannaar.

Sekadar renungan untuk hari ini, billahi taufiq wal hidayah.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Kullukum raaim, wa kullukum mas'ulun arraaiyatihi

Posted By ariandita on June 15th, 2010

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanyai perihal apa-apa yang dipimpinnya”, Al Hadits

Pada suatu ketika anak saya yang pertama berkata, ” Alif nggak mau sekolah lagi, capek”

Dengan serta-merta pada saat itu kakek dan neneknya menanggapi, yang kira-kira intinya adalah, “Kalo nggak mau sekolah nanti besar jadi pengamen lho”

Anak saya yang pertama sepertinya tidak bisa menerima pendapat itu. Saya mulai berpikir mengapa Alif sepertinya tidak mengerti bukan hanya tidak dapat menerima, sampai pada suatu kesimpulan bahwa pikiran anak saya, Alif, belum dapat menerawang sejauh itu. Pikiran anak-anak masih terbatas, sepandai apapun anak-anak pikiran anak masih tetap pikiran anak kecil. Saya memutar otak lebih keras bagaimana supaya Alif tetap mau sekolah dan menerima alasan yang saya utarakan. Saya mulai mengingat-ingat jaman saya sekolah dahulu, apa yang paling menbahagiakan saya dengan saya bersekolah, setelah berpikir beberapa lama aku temukanlah hal itu. Hal yang paling menyenangkan ketika bersekolah adalah LIBURAN !

Nah dengan sedikit tambahan kepercayaan diri aku berkata kepada Alif, ” Lif nanti kalau ngga mau sekolah lagi Alif nggak akan pernah punya LIBUR PANJANG, nggak bisa seneng-seneng main komputer pas liburan, nggak bisa sepedaan pas libur sekolah.”

Alif terlihat berpikir dan setuju untuk tetap besekolah seperti biasa. Saat itu aku belum mengetahui dengan pasti apakah Alif dengan pikiran anak-anaknya benar-benar memahami apa yang saya utarakan, sampai pada suiatu saat Alif berkata kepada temannya yang tidak mau bersekolah persis seperti apa yang saya ungkapkan, ” Nanti kalau nggak mau sekolah nggak punya Liburan lho !”

Seandainya semua pemimpin kita dapat berpikir dengan cara berpikir orang-orang yang dipimpinnya maka tidak akan terjadi kekacauan seperti yang kita lihat sekarang. Sekarang kita melihat semua orang angkat bicara, tukang becak pun bebas mengkritik pemerintahan di media massa, masya Allah, jauh sekali dari apa yang disyariatkan oleh Islam, Islam mengajarkan kepada kita, jika hendak menasehati pemimpin, tarik dia ke tempat yang sepi, bicara empat mata, sampaikan apa yang hendak engkau sampaikan. Sangat jauh dari yang terjadi sekarang pemimpin dihujat di berbagai media, berbagai forum dipakai juga untuk mengkritik, semua akan menimbulkan ketidaksukaan masyarakat kepada pemimpinnya, dan itu berakibat buruk untuk masa yang selanjutnya.

Mari kita kembali kepada yang telah Allah ajarkan kepada kita dalam Islam, karena Allah lebih mengetahui setiap ciptaanNya, seperti juga seorang programmer lebih mengetahui program bikinannya ketimbang orang yang meneruskan programnya di kemudian hari, wallahu a’lam bishawab.

Seorang Penambal Ban

Posted By ariandita on June 15th, 2010

Sedikit renungan

Hari ini ban motorku bocor pada saat hari hujan cukup deras. Aku berjalan mendorong motor dan mencari penambal ban. Setelah kutemukan ternyata tutup, satu lagi tidak ada orang. Ketika saya ketok pintunya dan saya berkata, “Bisa minta tolong tambal ban ?”

Jawabannya cukup membuat aku merenung, “Hujan, entar aja !”

Wah, aku perlunya sekarang kalau beliau tidak bersedia ya sudah aku cari tempat lain, atau penyelesaian lain, setelah aku pikir kemungkinan semua penambal ban akan malas untuk menambal ketika hari hujan seperti ini maka aku putuskan untuk membelikan ban dalam motor saja daripada mencari penambal ban yang bersedia membantu untuk menambal ban di saat seperti ini.

Mari kita renungkan sedikit, seorang pekerja kantoran tidak mungkin menampik tugas dengan alasan hujan deras, atau hal -hal yang menyebabkan malas untuk bekerja, tapi inilah kelebihan seorang penambal ban ketimbang pekerja kantoran, mereka bebas menampik tugas hanya karena hujan. Risikonya hanya hilangnya bayaran menambal ban pada saat itu saja, jika pekerja kantoran yang melakukannya maka bisa jadi kita harus mencari pekerjaan lain.

Sekadar bahan renungan, wallahu a’lam bishawab.

Jangan takut punya anak banyak

Posted By ariandita on June 1st, 2010

Pada jaman sekarang ini banyak orang yang dengan sengaja membatasi jumlah anak, jika sudah dua cukup, seperti dakwah penyesatan yang sering kita dengar “Dua anak cukup, laki-laki dan perempuan sama saja”. Mari kita renungkan bersama mengapa sebenarnya kita menyengaja untuk membatasi jumlah anak ? Ada banyak alasan yang dilontarkan para pendukung paham “dua anak cukup”

1. Dengan anak yang jumlahnya sedikit makin intensif kita dalam memperhatikan anak

2. Dengan jumlah anak yang sedikit maka pendidikan anak lebih dapat diperhatikan, bersekolah sampai setinggi-tingginya

3. Tanggung jawab akan berbatas dengan berbatasnya jumlah anak

Rasulullah menyuruh kita untuk memperbanyak anak, tentu lebih baik bagi kita untuk menaati Rasulullah. Kita semua tentu sepakat bahwa yang patut kita percayai 100% hanya Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah tidak akan menyampaikan sesuatu kepada kita kalau bukan sesuatu itu dari Allah, semua yang Rasul sampaikan kepada kita adalah yang diterima Rasul dari Allah, sehingga perintah memperbanyak anak itu sebenarnya adalah perintah Allah.

Tiga alasan yang diajukan pendukung paham “dua anak cukup” dapat dibantah dengan menyandarkan diri sepenuhnya kepada syariat Islam. Mari kita coba merenungi bersama, saya mencoba untuk membantah tiga alasan tersebut dengan ilmu yang terbatas, saya membuka sepenuhnya komentar dan masukan yang membangun demi kelancaran jalan kita semua menuju Jannah.

1. Dengan anak yang jumlahnya sedikit makin intensif kita dalam memperhatikan anak

Perhatian kita ke anak tentu tidak dapat dibatasi dengan jumlah anak, kalau kita kehabisan waktu untuk anak mungkin karena para suami membiarkan istrinya bekerja dan terlalu banyak menghabiskan waktu diluar rumah dan meninggalkan anak-anak bersama pengasuh di rumah, perhatian kita ke anak tidak akan tergantikan dengan menyediakan pengasuh anak walaupun pengasuh anak kita adalah yang nomer satu, yang gajinya separuh dari penghasilan kita bulanan. Lebih baik bagi anak-anak kita adalah keberadaan ibunya di rumah. Marilah kita bertakwa kepada Allah, penghasilan istri kita per bulannya tidak akan sebanding dengan waktunya bersama anak-anak yang hilang. Rizki itu telah ditentukan oleh Allah, Allah lah yang mengatur dan membagi rizki kita. Tidak akan ada satu makhluk melata pun di dunia ini yang rizkinya tidak dijamin oleh Allah, tanpa istri kita bekerja pun Allah akan mencukupkan rizki buat kita, tidak akan berkurang jatah rizki kita dengan tidak bekerjanya istri-istri kita.

2. Dengan jumlah anak yang sedikit maka pendidikan anak lebih dapat diperhatikan, bersekolah sampai setinggi-tingginya

Saya teringat kepada nasihat seorang Ustadz ketika mendengar pendapat ini, “Janganlah kita terlalu menghitung apa-apa yang ada di tangan kita sehingga kita melupakan apa-apa yang ada di tangan Allah”. Kita semua sepakat bahwa apa yang di tangan kita belum tentu menjadi jatah rejeki kita, yang sudah kita telan saja, sudah masuk ke dalam kerongkongan kita, jika Allah takdirkan masih bisa kita muntah karena suatu sebab, sedangkan apa yang di tangan Allah yang menjadi jatah rizki kita tentu akan sampai ke tangan kita dan kita nikmati sebagai jatah rizki kita. Anak-anak kita jalannya masih jauh masih panjang dalam pikiran kita, apakah benar demikian ? Tentu tidak, Allah yang mengatur semuanya kita harus menyakininya, anak kita adalah milik Allah, kita membayar gadainya dengan aqiqah yang kita sembelih di hari ketujuh dari kelahiran anak kita. Masalah gadai-menggadai tentu kita sudah sepakat bahwa yang membayar tentu yang ketitipan barang, jika kita menggadaikan barang di Pegadaian maka Pegadaian lah yang membayar kepada kita, dengan aqiqah kita membayar gadai anak kita, maka pada aqiqah itu lah sebenarnya pengakuan kita bahwa anak kita adalah milik Allah, dan Allah berkehendak untuk “meminjamkannya” kepada kita dan kita bayar gadainya. Semua pengeluaran yang terjadi ketika kita mempunyai anak sepenuhnya dari Allah, jangan memberatkan kita dengan beban yang berlebih dengan berpikiran bahwa anak-anak kita adalah tanggung jawab penuh, Allah lah yang akan membantu kita mengasuh anak-anak kita karena anak-anak kita adalah milik Allah sepenuhnya.

3. Tanggung jawab akan berbatas dengan berbatasnya jumlah anak

Sepertinya alasan ketiga ini dapat terbantah dengan tulisan saya di alasan kedua, semoga tulisan saya ini dapat berguna bagi semua, lebih utama bagi kita dengan tidak membatasi jumlah anak.

Wallahu a’lam bishawab