splash
Ardiansyah
A Father of three children, and wants to lead all of the family to reach the highest location in Jannah
Dari Ibnu Abbas ia berkata, "Dahulu aku pernah berada di belakang Rasulullah, lalu beliau bersabda: "Wahai anak kecil sesungguhnya aku ingin mengajarimu beberapa kata, jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu, jagalah Allah pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkanmu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah diangkat pena dan telah kering tinta" (HR. Tirmidzi, hasan shohih)
 

You Are Viewing Menuju Surga Allah

Cukuplah Kematian Sebagai Nasihat

Posted By ariandita on March 21st, 2013

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi) Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang. Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Diantaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

  1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya. Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan. Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul..”
  2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya. Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir. Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran. Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.
  3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa Islam menggariskan bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata. Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga. Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.
  4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini. Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.
  5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan. “Ad-Dun-ya mazra’atul lil akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat). Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

Wallahu’alam bissawab.
(ReBlog from Someone’s Blog – Sorry I couldn’t remember from which I’ve copied this article )

Kehidupan setelah Kematian

Posted By ariandita on November 6th, 2012

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Hari ini aku sempat berdiskusi dengan istriku tentang kehidupan di alam kubur, kehidupan yang jauh lebih panjang dibandingkan kehidupan kita di dunia ini, yang kita dedikasikan hidup kita sekarang ini agar terhindar dari azab kubur. Kehidupan setelah kematian itu pasti ada, Allah, Sang Khaliq, adalah Dzat yang Maha Adil, seperti yang kita saksikan bersama saat ini dan saat – saat yang lalu, betapa banyak ketidakadilan di sekitar kita, jikalah memang kehidupan kita ini berakhir ketika kita makamkan di Tempat Pemakaman Umum, maka banyak masalah pertikaian yang tidak selesai. Sungguh sebenarnyalah di hari kiamat kelak seekor kambing yang patah tanduknya akan mengajukan tuntutan kepada kambing lain yang mematahkannya.

Setiap yang kita lakukan di dunia ini ada diperlihatkan kepada kita, sampai tindakan kita yang sekecil-kecilnya, yang berusaha kita tutupi dari seluruh makhluk. Kesadaran akan adanya kehidupan setelah kematian inilah yang seakan-akan hilang dari mayoritas manusia di dunia ini, bahkan dari mayoritas umat yang berkeyakinan adalah kehidupan setelah kematian, padahal dengan mengingat akan adanya kehidupan setelah kematian menjadikan seluruh perilaku kita terjaga. Kita semua akan menjaga agar tidak terperosok kepada hal-hal yang akan memperberat timbangan keburukan kita. Kita semua akan merasa bahwa WASKAT ( Pengawasan Malaikat ) itu adalah sesuatu yang nyata, karena catatan amalan kita yang dibuat oleh Malaikat Pencatat amallah yang akan dijadikan rujukan penghitungan amal kita kelak di hari kiamat.

Keyakinan tentang adanya kehidupan setelah kematian ini akan membawa perubahan besar dalam diri kita, karena dengan keyakinan tersebut kita akan mengesampingkan tujuan – tujuan rendah dari kehidupan dunia ini bila harus mengorbankan kehidupan kita kelak. Seorang wanita akan menampik tawaran kerja dari manapun yang mempersyaratkan dirinya harus melepas hijab / jilbab yang dikenakannya selama ini, berapapun tawaran gaji yang bakal diterima, karena kehidupan kita di akhirat nanti jauh lebih lama dibandingkan kehidupan kita sekarang. Apalah artinya kehidupan, yang mungkin paling lama untuk umat – umat sekarang ini 120 tahun, bahkan sangat jarang manusia yang dapat mencapai umur 120 pada saat ini, bila dibandingkan kehidupan akhirat nanti yang tiada berbatas.

Ad Dunya darul amal wa akhirat darul jaza’,

Dunia ini adalah Negeri Amalan, dan akhirat adalah Negeri Pembalasan, jangan ditanyakan apakah di Surga nanti kita masih wajib sholat, karena Negeri Akhirat adalah Negeri Pembalasan, di dunia ini kita mengalami susah dan senang secara bergantian, dan memang itulah sifat dari kehidupan dunia, jika mau senang terus maka berjuanglah untuk bisa hidup di Surga, dan Neraka adalah Negeri dimana kesusahan berlangsung terus – menerus, a’udzu billahi minannaar.

Sekadar renungan untuk hari ini, billahi taufiq wal hidayah.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan berbuat Maksiat

Posted By ariandita on October 23rd, 2010

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Di jaman yang penuh fitnah seperti jaman kita hidup sekarang ini, semua lini kehidupan penuh dengan maksiat, kebohongan, perzinahan, pengkhianatan terhadap janji sudah merajalela, bukan hanya itu kesyirikan pun merajalela, padahal kita semua tahu dosa syirik adalah dosa yang paling besar, pelakuknya terancam neraka selama-lamanya jika tidak sempat bertaubat sebelum taubat itu tidak ada gunanya.
Judul posting kali ini ana sengaja membuatnya menjadi menarik untuk dibaca, silahkan berbuat maksiat. Ini memang benar saya utarakan untuk semua dari kita yang membaca dan yang menulis, tetapi kata-kata itu mempunyai dua syarat yang mesti dipenuhi, syarat-syarat itu adalah

1. Silahkan berbuat maksiat di tempat yang Allah tidak melihatnya, sehingga kita tidak terancam dengan azab Allah. Karena jika kita melakukannya di tempat yang terlihat Allah niscaya ada yang mencatatnya dan catatan itu akan diperlihatkan kepada kita satu-per-satu di hari di mana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah.
Sanggupkan kita berada di tempat di mana Allah tidak melihat kita ?

2. Silahkan berbuat maksiat, tetapi jangan sekali-kali berbuat maksiat dengan mempergunakan salah satu dari nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kita. Jangan menggunakan mata kita untuk melihat yang tidak diijinkan Allah untuk melihatnya, jangan menggunakan tangan kita untuk memegang apa-apa yang diharamkan Allah untuk dipegang, jangan menggunakan kaki kita untuk berjalan ke tempat-tempat yang maksiat, jika mau mendatangi tempat maksiat silahkan tapi jangan pergunakan satu dari nikmat Allah yang telah Allah karuniakan kepada kita semua. Sanggupkan kita melakukannya ?

Jika jawaban dari dua pertanyaan di atas adalah tidak sanggup, maka masih beranikan kita berbuat maksiat kepada Allah, Dzat yang di tanganNya lah jiwa-jiwa kita ?

Wallahu’alam bishawab.

Kullukum raaim, wa kullukum mas'ulun arraaiyatihi

Posted By ariandita on June 15th, 2010

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanyai perihal apa-apa yang dipimpinnya”, Al Hadits

Pada suatu ketika anak saya yang pertama berkata, ” Alif nggak mau sekolah lagi, capek”

Dengan serta-merta pada saat itu kakek dan neneknya menanggapi, yang kira-kira intinya adalah, “Kalo nggak mau sekolah nanti besar jadi pengamen lho”

Anak saya yang pertama sepertinya tidak bisa menerima pendapat itu. Saya mulai berpikir mengapa Alif sepertinya tidak mengerti bukan hanya tidak dapat menerima, sampai pada suatu kesimpulan bahwa pikiran anak saya, Alif, belum dapat menerawang sejauh itu. Pikiran anak-anak masih terbatas, sepandai apapun anak-anak pikiran anak masih tetap pikiran anak kecil. Saya memutar otak lebih keras bagaimana supaya Alif tetap mau sekolah dan menerima alasan yang saya utarakan. Saya mulai mengingat-ingat jaman saya sekolah dahulu, apa yang paling menbahagiakan saya dengan saya bersekolah, setelah berpikir beberapa lama aku temukanlah hal itu. Hal yang paling menyenangkan ketika bersekolah adalah LIBURAN !

Nah dengan sedikit tambahan kepercayaan diri aku berkata kepada Alif, ” Lif nanti kalau ngga mau sekolah lagi Alif nggak akan pernah punya LIBUR PANJANG, nggak bisa seneng-seneng main komputer pas liburan, nggak bisa sepedaan pas libur sekolah.”

Alif terlihat berpikir dan setuju untuk tetap besekolah seperti biasa. Saat itu aku belum mengetahui dengan pasti apakah Alif dengan pikiran anak-anaknya benar-benar memahami apa yang saya utarakan, sampai pada suiatu saat Alif berkata kepada temannya yang tidak mau bersekolah persis seperti apa yang saya ungkapkan, ” Nanti kalau nggak mau sekolah nggak punya Liburan lho !”

Seandainya semua pemimpin kita dapat berpikir dengan cara berpikir orang-orang yang dipimpinnya maka tidak akan terjadi kekacauan seperti yang kita lihat sekarang. Sekarang kita melihat semua orang angkat bicara, tukang becak pun bebas mengkritik pemerintahan di media massa, masya Allah, jauh sekali dari apa yang disyariatkan oleh Islam, Islam mengajarkan kepada kita, jika hendak menasehati pemimpin, tarik dia ke tempat yang sepi, bicara empat mata, sampaikan apa yang hendak engkau sampaikan. Sangat jauh dari yang terjadi sekarang pemimpin dihujat di berbagai media, berbagai forum dipakai juga untuk mengkritik, semua akan menimbulkan ketidaksukaan masyarakat kepada pemimpinnya, dan itu berakibat buruk untuk masa yang selanjutnya.

Mari kita kembali kepada yang telah Allah ajarkan kepada kita dalam Islam, karena Allah lebih mengetahui setiap ciptaanNya, seperti juga seorang programmer lebih mengetahui program bikinannya ketimbang orang yang meneruskan programnya di kemudian hari, wallahu a’lam bishawab.

Kepada Istriku

Posted By ariandita on June 2nd, 2010

Petang ini aku tidak bisa segera pulang. Banyak tugas-tugas yang belum tuntas harus digegas. Petang menjelang, sms-mu datang, menanyakan kapan pulang?

Hmm …mungkin aku baru bisa pulang malam. Mungkin nanti anak-anak sudah tidur, si kecil yang lucu hari ini tidak bergantung dikakiku ketika pulang. Karena ia telah lelap dalam tidurnya.

Istriku …

Aku tahu, betapa berat  tugas dan tanggung jawabmu dirumah. Pekerjaanmu padat dan berat.

Memasak

Mencuci

Menyapu

Mengurus urusan rumahtangga.

Letih dan lelah demi semua.

Menyusui dan mendidik anak-anak.

Menjaga amanah dan kesetiaan ketika suami tidak ada.

Tidak diperintahkan sholat jum’at.

Tidak pula diwajibkan sholat jama’ah ke mesjid.

Tidak wajib atasnya jihad dengan senjata.

Namun begitu istriku, bergembiralah karena engkau tetap mendapatkan pahala seperti kaum pria.

Kok bisa?

Dengarkan jawabannya dari seorang utusan wanita “Asma’ binti Yazid Al-Anshoriyyah yang mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika beliau sedang duduk bersama sahabat-sahabat.

Asma binti Yazid Al-Ashoriyyah, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, sesungguhnya aku adalah utusan para wanita kepadamu, dan aku tahu – jiwaku sebagai tebusanmu – bahwasanya tidak seorangpun dari wanita baik di timur ataupun di barat yang mendengar kepergianku untuk menemui ini ataupun tidak mendengarnya melainkan ia sependapat denganku.

Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada laki-laki dan wanita. Maka kami beriman kepadamu dan kepada Ilah-mu yang telah mengutus.

Dan sesungguhnya kami para wanita terbatas (geraknya); menjadi penjaga rumah-rumah kalian, tempat kalian menunaikan syahwat kalian dan yang mengandung anak-anak kalian.

Sementara kalian para laki-laki dilebihkan atas kami dengan sholat jum’at, jama’ah, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, menunaikan haji berkali-kali, dan yang lebih baik dari itu berjihad di jalan Allah. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila ia keluar haji atau umroh atau berjihad, kami yang menjaga harta kalian, menenunkan pakaian kalian, dan kami pula yang mendidik anak-anak kalian. Maka apakah kami mendapatkan pahala seperti kalian hai Rasulullah?

Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama menoleh kepada para sahabatnya, kemudian beliau berkata, “Apakah kalian pernah mendengar perkataan wanita yang lebih baik dari pertanyaannya dalam urusan agamanya ini? Mereka menjawab, “Hai Rasulullah, kami tidak mengira bahwa seorang wanita bisa paham seperti ini.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama menoleh kepadanya kemudian berkata kepadanya, “Pulanglah wahai wanita dan beritahukanlah kepada orang-orang wanita-wanita dibelakangmu bahwasanya baiknya pengabdian salah seorang dari kalian kepada suaminya dan mengharapkan ridhonya, serta mengikuti keinginannya menandingi itu semua”.

Maka wanita itu pulang seraya bertahlil, bertakbir dengan gembira”.(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abil Iman).

Istriku …

Jika seorang wanita memahami ibadah dengan sempit, hanya sebatas ruku’ dan sujud saja, ia akan kehilangan pahala yang besar, karena ia akan menganggap pekerjaan dirumah, berkhidmat kepada suami, bergaul dengannya dengan baik, mendidik anak-anak semua itu tidak termasuk ibadah. Ini jelas salah dalam memahami ibadah.

Ibadah sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah suatu penamaan untuk setiap sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari perkataan dan perbuatan yang batin maupun zhohir.

Sholat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada orangtua, shilaturrahim, menepati janji, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, jihad melawan orang kafir dan munafiqin, berbuat baik kepada tetangga anak yatim orang miskin ibnus sabil dan hewan, berdo’a, berzikir, membaca quran dan semisalnya termasuk ibadah. Begitu juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, bertaubat kepada-Nya dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya semata, bersabar terhadap keputusan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan ridho terhadap qodho-Nya, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya semua itu termasuk ibadah kepada Allah.

Jadi ibadatullah adalah  tujuan yang dicintai dan diridhoi-Nya yang karenanya Ia menciptakan makhluk sebagaimana firman-Nya,

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengibadati-Ku”.

Engkau istriku .. senantiasa dalam ibadah ketika berkhidmat kepada suamimu dan anak-anakmu selama engkau mengharapkan ridhonya dan berbuat baik dalam bergaul dengannya.

Selamat untukmu istriku!!

Engkau berhak mendapatkan pahala di dalam rumahmu jika :

-          Ikhlas dan mengharapkan pahala dari Allah.

-          Memperbaiki niat.

Terakhir .. semoga Allah senantiasa menjagamu dan menjaga rumah tangga kita dalam naungan ridho dan cinta-Nya, amin.

Sumber : Ustadz Abu Zubair – http://abuzubair.net/kepada-istriku/

Jangan takut punya anak banyak

Posted By ariandita on June 1st, 2010

Pada jaman sekarang ini banyak orang yang dengan sengaja membatasi jumlah anak, jika sudah dua cukup, seperti dakwah penyesatan yang sering kita dengar “Dua anak cukup, laki-laki dan perempuan sama saja”. Mari kita renungkan bersama mengapa sebenarnya kita menyengaja untuk membatasi jumlah anak ? Ada banyak alasan yang dilontarkan para pendukung paham “dua anak cukup”

1. Dengan anak yang jumlahnya sedikit makin intensif kita dalam memperhatikan anak

2. Dengan jumlah anak yang sedikit maka pendidikan anak lebih dapat diperhatikan, bersekolah sampai setinggi-tingginya

3. Tanggung jawab akan berbatas dengan berbatasnya jumlah anak

Rasulullah menyuruh kita untuk memperbanyak anak, tentu lebih baik bagi kita untuk menaati Rasulullah. Kita semua tentu sepakat bahwa yang patut kita percayai 100% hanya Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah tidak akan menyampaikan sesuatu kepada kita kalau bukan sesuatu itu dari Allah, semua yang Rasul sampaikan kepada kita adalah yang diterima Rasul dari Allah, sehingga perintah memperbanyak anak itu sebenarnya adalah perintah Allah.

Tiga alasan yang diajukan pendukung paham “dua anak cukup” dapat dibantah dengan menyandarkan diri sepenuhnya kepada syariat Islam. Mari kita coba merenungi bersama, saya mencoba untuk membantah tiga alasan tersebut dengan ilmu yang terbatas, saya membuka sepenuhnya komentar dan masukan yang membangun demi kelancaran jalan kita semua menuju Jannah.

1. Dengan anak yang jumlahnya sedikit makin intensif kita dalam memperhatikan anak

Perhatian kita ke anak tentu tidak dapat dibatasi dengan jumlah anak, kalau kita kehabisan waktu untuk anak mungkin karena para suami membiarkan istrinya bekerja dan terlalu banyak menghabiskan waktu diluar rumah dan meninggalkan anak-anak bersama pengasuh di rumah, perhatian kita ke anak tidak akan tergantikan dengan menyediakan pengasuh anak walaupun pengasuh anak kita adalah yang nomer satu, yang gajinya separuh dari penghasilan kita bulanan. Lebih baik bagi anak-anak kita adalah keberadaan ibunya di rumah. Marilah kita bertakwa kepada Allah, penghasilan istri kita per bulannya tidak akan sebanding dengan waktunya bersama anak-anak yang hilang. Rizki itu telah ditentukan oleh Allah, Allah lah yang mengatur dan membagi rizki kita. Tidak akan ada satu makhluk melata pun di dunia ini yang rizkinya tidak dijamin oleh Allah, tanpa istri kita bekerja pun Allah akan mencukupkan rizki buat kita, tidak akan berkurang jatah rizki kita dengan tidak bekerjanya istri-istri kita.

2. Dengan jumlah anak yang sedikit maka pendidikan anak lebih dapat diperhatikan, bersekolah sampai setinggi-tingginya

Saya teringat kepada nasihat seorang Ustadz ketika mendengar pendapat ini, “Janganlah kita terlalu menghitung apa-apa yang ada di tangan kita sehingga kita melupakan apa-apa yang ada di tangan Allah”. Kita semua sepakat bahwa apa yang di tangan kita belum tentu menjadi jatah rejeki kita, yang sudah kita telan saja, sudah masuk ke dalam kerongkongan kita, jika Allah takdirkan masih bisa kita muntah karena suatu sebab, sedangkan apa yang di tangan Allah yang menjadi jatah rizki kita tentu akan sampai ke tangan kita dan kita nikmati sebagai jatah rizki kita. Anak-anak kita jalannya masih jauh masih panjang dalam pikiran kita, apakah benar demikian ? Tentu tidak, Allah yang mengatur semuanya kita harus menyakininya, anak kita adalah milik Allah, kita membayar gadainya dengan aqiqah yang kita sembelih di hari ketujuh dari kelahiran anak kita. Masalah gadai-menggadai tentu kita sudah sepakat bahwa yang membayar tentu yang ketitipan barang, jika kita menggadaikan barang di Pegadaian maka Pegadaian lah yang membayar kepada kita, dengan aqiqah kita membayar gadai anak kita, maka pada aqiqah itu lah sebenarnya pengakuan kita bahwa anak kita adalah milik Allah, dan Allah berkehendak untuk “meminjamkannya” kepada kita dan kita bayar gadainya. Semua pengeluaran yang terjadi ketika kita mempunyai anak sepenuhnya dari Allah, jangan memberatkan kita dengan beban yang berlebih dengan berpikiran bahwa anak-anak kita adalah tanggung jawab penuh, Allah lah yang akan membantu kita mengasuh anak-anak kita karena anak-anak kita adalah milik Allah sepenuhnya.

3. Tanggung jawab akan berbatas dengan berbatasnya jumlah anak

Sepertinya alasan ketiga ini dapat terbantah dengan tulisan saya di alasan kedua, semoga tulisan saya ini dapat berguna bagi semua, lebih utama bagi kita dengan tidak membatasi jumlah anak.

Wallahu a’lam bishawab

Likulli syai'im maziyyatun

Posted By ariandita on May 17th, 2010

“Segala sesuatu itu unique”

Kehamilan istriku yang ketiga ini sangat berbeda dengan dua kehamilan yang sebelumnya yang sekarang sudah menjadi dua anak yang lucu-lucu, Muhammad Alif (6th) dan Naila Az-Zahra (3th). Anakku yang masih ada dalam kandungan sangat aktif sehingga cukup merepotkan ibunya ketika ibunya ingin beristirahat dan anakku masih ingin bermain, tendangan-tendangan dan tinjunya terasa sangat kuat dirasakan dari luar. Ana sebagai ayahnya yang belum pernah dan insya Allah tidak pernah merasakan hamil tentu saja tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika tendangan-tendangan dan tinju-tinju itu berasal dari dalam perutku. Mohon do’anya agar proses kehamilan dan persalinannya kelak dimudahkan oleh Allah