splash
Ardiansyah
A Father of three children, and wants to lead all of the family to reach the highest location in Jannah
Dari Ibnu Abbas ia berkata, "Dahulu aku pernah berada di belakang Rasulullah, lalu beliau bersabda: "Wahai anak kecil sesungguhnya aku ingin mengajarimu beberapa kata, jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu, jagalah Allah pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkanmu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah diangkat pena dan telah kering tinta" (HR. Tirmidzi, hasan shohih)
 

Archive for June, 2010

How to add binus.edu account to your Blackberry Internet Service

Posted By ariandita on June 28th, 2010

The last Friday is like a nightmare for Binus Datacenter. Our Microsoft Exchange 2007 Client Access Server is dead. The Volume that contains Windows 2003 Operating System is corrupt. Fortunately we have another server that can be promoted to become a Client Access Server. Almost two days we tried to recovered the dying server. And we’ve done it on Saturday. Now we have all system ready but another problem occurred. Everyone that have a Blackberry and connect to our mail system via Blackberry Internet Service report that they don’t receive email for the past three days.

Although Data Center Staff do not have any Blackberry Device we try to get one to try the BIS setting. The problem solved when we erased the old account and created new one.

Please provide these data on the Provider’s Web Email Setting, open your Blackberry Web Browser and open this site

for Telkomsel : http://telkomsel.blackberry.com/
for Indosat : http://indosat.blackberry.com
for XL : http://www.xl.blackberry.com
for 3 : http://tri.blackberry.com/
for Axis : http://axis.blackberry.com/

Please provide this data in the next page

1. Email address : blablabla@binus.edu

2. Your password : “Binus1234″  ( Binus default password )

and click Next

your Blackberry Device will say

The email address or password is incorrect, or we need more detail

Retype the information or provide additonal settings.

Please select the Provide Additional Setting

1. Select Microsoft Outlook WebAccess

2. Provide the Outlook Web Access address for Binus : https://mail.binus.edu/owa

3. Login Name : binus/blablabla

4. Mailbox Name : blablabla

Klik Next

Your Blackberry should accept your configuration.

Kullukum raaim, wa kullukum mas'ulun arraaiyatihi

Posted By ariandita on June 15th, 2010

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanyai perihal apa-apa yang dipimpinnya”, Al Hadits

Pada suatu ketika anak saya yang pertama berkata, ” Alif nggak mau sekolah lagi, capek”

Dengan serta-merta pada saat itu kakek dan neneknya menanggapi, yang kira-kira intinya adalah, “Kalo nggak mau sekolah nanti besar jadi pengamen lho”

Anak saya yang pertama sepertinya tidak bisa menerima pendapat itu. Saya mulai berpikir mengapa Alif sepertinya tidak mengerti bukan hanya tidak dapat menerima, sampai pada suatu kesimpulan bahwa pikiran anak saya, Alif, belum dapat menerawang sejauh itu. Pikiran anak-anak masih terbatas, sepandai apapun anak-anak pikiran anak masih tetap pikiran anak kecil. Saya memutar otak lebih keras bagaimana supaya Alif tetap mau sekolah dan menerima alasan yang saya utarakan. Saya mulai mengingat-ingat jaman saya sekolah dahulu, apa yang paling menbahagiakan saya dengan saya bersekolah, setelah berpikir beberapa lama aku temukanlah hal itu. Hal yang paling menyenangkan ketika bersekolah adalah LIBURAN !

Nah dengan sedikit tambahan kepercayaan diri aku berkata kepada Alif, ” Lif nanti kalau ngga mau sekolah lagi Alif nggak akan pernah punya LIBUR PANJANG, nggak bisa seneng-seneng main komputer pas liburan, nggak bisa sepedaan pas libur sekolah.”

Alif terlihat berpikir dan setuju untuk tetap besekolah seperti biasa. Saat itu aku belum mengetahui dengan pasti apakah Alif dengan pikiran anak-anaknya benar-benar memahami apa yang saya utarakan, sampai pada suiatu saat Alif berkata kepada temannya yang tidak mau bersekolah persis seperti apa yang saya ungkapkan, ” Nanti kalau nggak mau sekolah nggak punya Liburan lho !”

Seandainya semua pemimpin kita dapat berpikir dengan cara berpikir orang-orang yang dipimpinnya maka tidak akan terjadi kekacauan seperti yang kita lihat sekarang. Sekarang kita melihat semua orang angkat bicara, tukang becak pun bebas mengkritik pemerintahan di media massa, masya Allah, jauh sekali dari apa yang disyariatkan oleh Islam, Islam mengajarkan kepada kita, jika hendak menasehati pemimpin, tarik dia ke tempat yang sepi, bicara empat mata, sampaikan apa yang hendak engkau sampaikan. Sangat jauh dari yang terjadi sekarang pemimpin dihujat di berbagai media, berbagai forum dipakai juga untuk mengkritik, semua akan menimbulkan ketidaksukaan masyarakat kepada pemimpinnya, dan itu berakibat buruk untuk masa yang selanjutnya.

Mari kita kembali kepada yang telah Allah ajarkan kepada kita dalam Islam, karena Allah lebih mengetahui setiap ciptaanNya, seperti juga seorang programmer lebih mengetahui program bikinannya ketimbang orang yang meneruskan programnya di kemudian hari, wallahu a’lam bishawab.

Seorang Penambal Ban

Posted By ariandita on June 15th, 2010

Sedikit renungan

Hari ini ban motorku bocor pada saat hari hujan cukup deras. Aku berjalan mendorong motor dan mencari penambal ban. Setelah kutemukan ternyata tutup, satu lagi tidak ada orang. Ketika saya ketok pintunya dan saya berkata, “Bisa minta tolong tambal ban ?”

Jawabannya cukup membuat aku merenung, “Hujan, entar aja !”

Wah, aku perlunya sekarang kalau beliau tidak bersedia ya sudah aku cari tempat lain, atau penyelesaian lain, setelah aku pikir kemungkinan semua penambal ban akan malas untuk menambal ketika hari hujan seperti ini maka aku putuskan untuk membelikan ban dalam motor saja daripada mencari penambal ban yang bersedia membantu untuk menambal ban di saat seperti ini.

Mari kita renungkan sedikit, seorang pekerja kantoran tidak mungkin menampik tugas dengan alasan hujan deras, atau hal -hal yang menyebabkan malas untuk bekerja, tapi inilah kelebihan seorang penambal ban ketimbang pekerja kantoran, mereka bebas menampik tugas hanya karena hujan. Risikonya hanya hilangnya bayaran menambal ban pada saat itu saja, jika pekerja kantoran yang melakukannya maka bisa jadi kita harus mencari pekerjaan lain.

Sekadar bahan renungan, wallahu a’lam bishawab.

Kepada Istriku

Posted By ariandita on June 2nd, 2010

Petang ini aku tidak bisa segera pulang. Banyak tugas-tugas yang belum tuntas harus digegas. Petang menjelang, sms-mu datang, menanyakan kapan pulang?

Hmm …mungkin aku baru bisa pulang malam. Mungkin nanti anak-anak sudah tidur, si kecil yang lucu hari ini tidak bergantung dikakiku ketika pulang. Karena ia telah lelap dalam tidurnya.

Istriku …

Aku tahu, betapa berat  tugas dan tanggung jawabmu dirumah. Pekerjaanmu padat dan berat.

Memasak

Mencuci

Menyapu

Mengurus urusan rumahtangga.

Letih dan lelah demi semua.

Menyusui dan mendidik anak-anak.

Menjaga amanah dan kesetiaan ketika suami tidak ada.

Tidak diperintahkan sholat jum’at.

Tidak pula diwajibkan sholat jama’ah ke mesjid.

Tidak wajib atasnya jihad dengan senjata.

Namun begitu istriku, bergembiralah karena engkau tetap mendapatkan pahala seperti kaum pria.

Kok bisa?

Dengarkan jawabannya dari seorang utusan wanita “Asma’ binti Yazid Al-Anshoriyyah yang mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika beliau sedang duduk bersama sahabat-sahabat.

Asma binti Yazid Al-Ashoriyyah, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, sesungguhnya aku adalah utusan para wanita kepadamu, dan aku tahu – jiwaku sebagai tebusanmu – bahwasanya tidak seorangpun dari wanita baik di timur ataupun di barat yang mendengar kepergianku untuk menemui ini ataupun tidak mendengarnya melainkan ia sependapat denganku.

Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada laki-laki dan wanita. Maka kami beriman kepadamu dan kepada Ilah-mu yang telah mengutus.

Dan sesungguhnya kami para wanita terbatas (geraknya); menjadi penjaga rumah-rumah kalian, tempat kalian menunaikan syahwat kalian dan yang mengandung anak-anak kalian.

Sementara kalian para laki-laki dilebihkan atas kami dengan sholat jum’at, jama’ah, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, menunaikan haji berkali-kali, dan yang lebih baik dari itu berjihad di jalan Allah. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila ia keluar haji atau umroh atau berjihad, kami yang menjaga harta kalian, menenunkan pakaian kalian, dan kami pula yang mendidik anak-anak kalian. Maka apakah kami mendapatkan pahala seperti kalian hai Rasulullah?

Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama menoleh kepada para sahabatnya, kemudian beliau berkata, “Apakah kalian pernah mendengar perkataan wanita yang lebih baik dari pertanyaannya dalam urusan agamanya ini? Mereka menjawab, “Hai Rasulullah, kami tidak mengira bahwa seorang wanita bisa paham seperti ini.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama menoleh kepadanya kemudian berkata kepadanya, “Pulanglah wahai wanita dan beritahukanlah kepada orang-orang wanita-wanita dibelakangmu bahwasanya baiknya pengabdian salah seorang dari kalian kepada suaminya dan mengharapkan ridhonya, serta mengikuti keinginannya menandingi itu semua”.

Maka wanita itu pulang seraya bertahlil, bertakbir dengan gembira”.(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abil Iman).

Istriku …

Jika seorang wanita memahami ibadah dengan sempit, hanya sebatas ruku’ dan sujud saja, ia akan kehilangan pahala yang besar, karena ia akan menganggap pekerjaan dirumah, berkhidmat kepada suami, bergaul dengannya dengan baik, mendidik anak-anak semua itu tidak termasuk ibadah. Ini jelas salah dalam memahami ibadah.

Ibadah sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah suatu penamaan untuk setiap sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari perkataan dan perbuatan yang batin maupun zhohir.

Sholat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada orangtua, shilaturrahim, menepati janji, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, jihad melawan orang kafir dan munafiqin, berbuat baik kepada tetangga anak yatim orang miskin ibnus sabil dan hewan, berdo’a, berzikir, membaca quran dan semisalnya termasuk ibadah. Begitu juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, bertaubat kepada-Nya dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya semata, bersabar terhadap keputusan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan ridho terhadap qodho-Nya, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya semua itu termasuk ibadah kepada Allah.

Jadi ibadatullah adalah  tujuan yang dicintai dan diridhoi-Nya yang karenanya Ia menciptakan makhluk sebagaimana firman-Nya,

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengibadati-Ku”.

Engkau istriku .. senantiasa dalam ibadah ketika berkhidmat kepada suamimu dan anak-anakmu selama engkau mengharapkan ridhonya dan berbuat baik dalam bergaul dengannya.

Selamat untukmu istriku!!

Engkau berhak mendapatkan pahala di dalam rumahmu jika :

-          Ikhlas dan mengharapkan pahala dari Allah.

-          Memperbaiki niat.

Terakhir .. semoga Allah senantiasa menjagamu dan menjaga rumah tangga kita dalam naungan ridho dan cinta-Nya, amin.

Sumber : Ustadz Abu Zubair – http://abuzubair.net/kepada-istriku/

Jangan takut punya anak banyak

Posted By ariandita on June 1st, 2010

Pada jaman sekarang ini banyak orang yang dengan sengaja membatasi jumlah anak, jika sudah dua cukup, seperti dakwah penyesatan yang sering kita dengar “Dua anak cukup, laki-laki dan perempuan sama saja”. Mari kita renungkan bersama mengapa sebenarnya kita menyengaja untuk membatasi jumlah anak ? Ada banyak alasan yang dilontarkan para pendukung paham “dua anak cukup”

1. Dengan anak yang jumlahnya sedikit makin intensif kita dalam memperhatikan anak

2. Dengan jumlah anak yang sedikit maka pendidikan anak lebih dapat diperhatikan, bersekolah sampai setinggi-tingginya

3. Tanggung jawab akan berbatas dengan berbatasnya jumlah anak

Rasulullah menyuruh kita untuk memperbanyak anak, tentu lebih baik bagi kita untuk menaati Rasulullah. Kita semua tentu sepakat bahwa yang patut kita percayai 100% hanya Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah tidak akan menyampaikan sesuatu kepada kita kalau bukan sesuatu itu dari Allah, semua yang Rasul sampaikan kepada kita adalah yang diterima Rasul dari Allah, sehingga perintah memperbanyak anak itu sebenarnya adalah perintah Allah.

Tiga alasan yang diajukan pendukung paham “dua anak cukup” dapat dibantah dengan menyandarkan diri sepenuhnya kepada syariat Islam. Mari kita coba merenungi bersama, saya mencoba untuk membantah tiga alasan tersebut dengan ilmu yang terbatas, saya membuka sepenuhnya komentar dan masukan yang membangun demi kelancaran jalan kita semua menuju Jannah.

1. Dengan anak yang jumlahnya sedikit makin intensif kita dalam memperhatikan anak

Perhatian kita ke anak tentu tidak dapat dibatasi dengan jumlah anak, kalau kita kehabisan waktu untuk anak mungkin karena para suami membiarkan istrinya bekerja dan terlalu banyak menghabiskan waktu diluar rumah dan meninggalkan anak-anak bersama pengasuh di rumah, perhatian kita ke anak tidak akan tergantikan dengan menyediakan pengasuh anak walaupun pengasuh anak kita adalah yang nomer satu, yang gajinya separuh dari penghasilan kita bulanan. Lebih baik bagi anak-anak kita adalah keberadaan ibunya di rumah. Marilah kita bertakwa kepada Allah, penghasilan istri kita per bulannya tidak akan sebanding dengan waktunya bersama anak-anak yang hilang. Rizki itu telah ditentukan oleh Allah, Allah lah yang mengatur dan membagi rizki kita. Tidak akan ada satu makhluk melata pun di dunia ini yang rizkinya tidak dijamin oleh Allah, tanpa istri kita bekerja pun Allah akan mencukupkan rizki buat kita, tidak akan berkurang jatah rizki kita dengan tidak bekerjanya istri-istri kita.

2. Dengan jumlah anak yang sedikit maka pendidikan anak lebih dapat diperhatikan, bersekolah sampai setinggi-tingginya

Saya teringat kepada nasihat seorang Ustadz ketika mendengar pendapat ini, “Janganlah kita terlalu menghitung apa-apa yang ada di tangan kita sehingga kita melupakan apa-apa yang ada di tangan Allah”. Kita semua sepakat bahwa apa yang di tangan kita belum tentu menjadi jatah rejeki kita, yang sudah kita telan saja, sudah masuk ke dalam kerongkongan kita, jika Allah takdirkan masih bisa kita muntah karena suatu sebab, sedangkan apa yang di tangan Allah yang menjadi jatah rizki kita tentu akan sampai ke tangan kita dan kita nikmati sebagai jatah rizki kita. Anak-anak kita jalannya masih jauh masih panjang dalam pikiran kita, apakah benar demikian ? Tentu tidak, Allah yang mengatur semuanya kita harus menyakininya, anak kita adalah milik Allah, kita membayar gadainya dengan aqiqah yang kita sembelih di hari ketujuh dari kelahiran anak kita. Masalah gadai-menggadai tentu kita sudah sepakat bahwa yang membayar tentu yang ketitipan barang, jika kita menggadaikan barang di Pegadaian maka Pegadaian lah yang membayar kepada kita, dengan aqiqah kita membayar gadai anak kita, maka pada aqiqah itu lah sebenarnya pengakuan kita bahwa anak kita adalah milik Allah, dan Allah berkehendak untuk “meminjamkannya” kepada kita dan kita bayar gadainya. Semua pengeluaran yang terjadi ketika kita mempunyai anak sepenuhnya dari Allah, jangan memberatkan kita dengan beban yang berlebih dengan berpikiran bahwa anak-anak kita adalah tanggung jawab penuh, Allah lah yang akan membantu kita mengasuh anak-anak kita karena anak-anak kita adalah milik Allah sepenuhnya.

3. Tanggung jawab akan berbatas dengan berbatasnya jumlah anak

Sepertinya alasan ketiga ini dapat terbantah dengan tulisan saya di alasan kedua, semoga tulisan saya ini dapat berguna bagi semua, lebih utama bagi kita dengan tidak membatasi jumlah anak.

Wallahu a’lam bishawab